Mengenalmu dan Menghancurkan

Lanjutan

Beberapa tahun kemudian..

Bapak menyelesaikan studinya di Bandung dan bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Aku, Kakak dan Ibu mengikuti Bapak dan meninggalkan Kakung dan mba Putri.

Jakarta saat itu sudah menjadi kota yang tidak pernah tidur. Gedung-gedung pencakar langit sudah pula berdiri di sana. Hiruk pikuk kesibukan dan segala kenikmatan dunia pastilah ada. Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi kami yang hanya terdaftar sebagai orang pinggiran. Tinggal di kontrakan padat penduduk dengan rumah tumpuk menumpuk.

Perumahan kami bila dipandang dari atas pastilah hanya tumpukan seng kumuh. Tidak ada pelataran yang luas dan nyanyian bambu yang menarikku untuk selalu datang kesana. Tidak ada bisikan yang kupikir hanya halusinasi anak balita dengan imaginasi yang luar biasa.

 Walau terdaftar sebagai rakyat pinggiran, namun kenangan di tempat itu pun tak kalah manis. Bolang di tengah kota, itu adalah aku dan teman-teman. Kami akan menghabiskan hari dengan bermain. Ikut menari saat hujan tiba, 'berenang' di genangan banjir, petak umpet, petak jongkok, galaksin, congklak dan bekel adalah permainan yang sudah jarang diminati oleh anak jaman sekarang. Dari sepulang sekolah, hingga tengah malam, tak ada orang tua yang mencari. Itu karena kami seperti tinggal bersama keluarga besar-mungkin faktor rumah berdepet dengan jalanan sempit membuat ikatan kekeluargaan kami amat erat.

 Selang beberapa rumah, terdapat sumur yang sudah tidak dipakai. Letak sumur itu terbuka dan terletak di depan jalan, hingga siapa saja yang melewatinya akan otomatis berjumpa dengan sumur itu. Konon katanya sumur tersebut memiliki penunggu, yaitu wanita berbaju putih dan berambut panjang. Untuk itu, aku selalu memejamkan mata atau berpaling saat melewatinya, walau bulu kudukku selalu terpanggil untuk berdiri, begitu juga punggung yang selalu bergidik dan dingin.

 bersambung...

 #30DWCjilid13 #Squad4 #Day12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karya Anak

Lanjutan

Cipta Anak