Lanjutan
Berada di Bekasi untuk waktu yang lama, bertambahnya usia bertemu teman baru, dan mengenal suka pada seseorang, akhirnya dapat mengatasi kejenuhan dan kesedihan berpisah dengan teman-teman Jakarta.
Ada satu laki-laki yang ku ingat, dia teman kakakku. Sepertinya teman pertama kakak di sekolah baru. Kakakku adalah pria yang paling pandai di kelasnya. Selalu begitu dari dulu, membawa piala peringkat 1 bukan hanya di kelas, tapi juga paralel. Anak laki-laki bertubuh kecil kurus, namun memiliki volume otak yang besar mungkin, karena dalam memutuskan masalah dia selalu dewasa dan jenius. Kakak juga bukan anak yang sombong, ia mau mengajari temannya yang kesulitan dalam pelajaran.
Aku menaruh simpati pada Andre, teman kakak yang bertubuh putih tinggi, hidung yang terpahat baik, mata sendu, rambut dibuat mirip tokoh idola pada saat itu dan berpakaian modis. Menurut cerita kakak, Andre juga pintar, itu sebabnya ia suka berdekatan dengan kakakku. Andre mungkin juga menaruh simpati yang sama, bukan ke GRan, tapi dia selalu menyapa dengan manis.
"Hai, adiknya Tio ya? kamu tau nggak, kamu itu cantik dan manis."
Sapaan yang selalu sama, dengan sunggingan senyum yang membuatku meleleh. Namun herannya, setiap kali Andre menyapa, aku menampakkan kesalku untuk menutupi rasa malu dan bahagia luar biasa. Andre hanya bisa menatap jauh, tanpa berani melanjutkan rayuan. Namun bila bertemu, ia akan menyapa dengan bahasa yang sama.
Memendam rasa pada Andre, membuatku sering memikirkannya, dan anehnya lagi, bila aku membayangkan Andre, tak lama kemudian kami akan bertemu. Bukan bualan, namun hal ini juga yang membuat aku bergidik ngeri pada diri sendiri.
bersambung..
#30DWCjilid13 #Squad4 #Day14
Komentar
Posting Komentar