Postingan

Lanjutan

Selesai acara pengajian aku membantu ibu menggulung tikar dan merapihkan bekas-bekas sajian yang sedikit berserakan, bapak dan kakak mengangkat  sofa dari teras kedalam. Pikiranku jalan-jalan ke bioskop tempat Airin dan teman-temannya. Aku juga sempat menatap lelaki sebaya yang tak ku kenal, menurut Airin ia ingin berkenalan denganku. Anak laki-laki bertubuh tinggi, badannya proporsional, memakai jaket navy dan celana jeans belel, kelihatannya anak baik-baik. Tak lama kemudian Ayah memanggil "Des, sini, " ujar Bapak yang sedang menyandarkan badannya di sofa dan melihatku merenung. " Iya pak, sebentar." aku berpura-pura semangat memenuhi panggilannya. "Lagi mikirin temen yang tadi ya?" Wajah bapak tidak terlihat marah, memang selalu begitu, berbicara selalu dengan senyum dan nada yang nyaman. "Kok tau." Jawabku seadanya, selalu mudah untuk berkata jujur pada bapak. "Emang bapak nggak pernah muda? " kini senyumnya lebih melebar. ...

Lanjutan

"Desi..." Airin temanku di klub karate memanggil. Ayah hanya memberi kode agar aku cepat keluar dan tidak mengganggu jalannya pengajian. Di luar ternyata Airin tidak sendiri, ia bersama Raika dan Imron pacarnya, Bahar pacar Airin dan satu anak laki-laki seumuran kami yang tak ku kenal. "Eh, kenapa Rin? " tanyaku setelah mendekati Airin yang saat itu memakai baju pink cantik selutut dan penutup lengan yang penuh rumbai. " Ada yang mau kenalan sama loe nih, temen SMP gue, sekalian ini kan malem minggu, mau ngajak loe nonton sama makan, tenang aja deh.. kita yang traktir. " Airin yang tinggi semampai berbicara dengan lembut juga gemulai, tangannya memainkan ujung rambutnya, memang ia gadis yang feminin, beda sekali denganku yang agak tomboi dan ceroboh ini. " Hah.. waduuuh, loe kagak bilang jauh hari, gue kalo tiap malem Minggu mah ngaji di rumah, atau ntar dulu yak, gue izin bokap dulu. " Aku yang saat itu sebenarnya gembira diajak malam Mingg...

Lanjutan

Saat aku banyak mendekatkan diri kepada penciptaku, hati menjadi lebih tenang, perasaan takut yang selalu menghantui tidak semerta-merta hilang, namun aku menyadari, sebagai makhluk yang lebih mulia, aku dapat mengalahkan mereka atas izin Allah. Setelah usia remaja, orangtuaku paham bahwa pendidikan agama di jaman era komunikasi makin maju, tayangan televisi bukan hanya TVRI yang berisi channel pendidikan, namun TV komersial sudah mulai bermunculan, menawarkan romantisme anak muda, gaya hidup modern yang sama dengan ke barat-baratan, mereka memperketat pendidikan agama bagi keluarga kami. Adalah ust Sholeh, yang mengajar bacaan Qur'an, tajwid beserta siraman rohani untuk aku dan keluargaku, tak terkecuali bapak dan ibu ikut serta. Ust yang hampir mirip dengan kebanyakan ust lain jaman dahulu, bertubuh kurus, lusuh, tinggi namun memiliki kharisma, adalah ust lulusan Sarjana dalam negeri jurusan pendidikan agama. Namun beliau tidak mengajar di sekolah formal, hanya mengisi kajian p...

Hasrat untuk berubah

Dari banyak belajar ilmu agama dari ust Subakir dibarengi dengan pembinaan alhlak dari ami Nurkaman dan ami Saad, hatiku terketuk untuk memperbaiki diri secara kepribadian juga spiritual. Sholat yang hanya ku lakukan saat bulan Ramadhan, itupun berjama’ah bersama teman-teman juga sambil bermain, kini lebih ku nikmati dan khusu' dalam berdoa. Di usia remaja aku sudah memiliki pondasi agama yang cukup, dan mengetahui batas haram dan halal, juga memiliki kepribadian. Saat teman yang lain bangga menceritakan sesuatu yang bagi agama kita dosa, aku sebatas mendengar karena menghargain mereka. Suatu ketika, Armad meminta uang padaku untuk memberi sabu, Metamfetamina, disingkat met,  di Indonesia disebut  sebagai sabu-sabu, adalah obat psikostimulansia dan sympathomimetic atau obat pemenang bagi seseorang gangguan hiperaktif, obat ini yang dipakai sebagian teman untuk melarikan diri mereka dari masalah, lalu beberapa teman mengikuti sekedar solidaritas, namun t...

Jiwa Kosong

Jiwa yang kosong adalah yang tidak bertuan, tidak memiliki tujuan, hanya mengikuti hawa nafsu dan keinginan pribadi, lalu di situlah jin dengan nyaman bersemayam, mencari teman untuk bersama-sama menuju kehancuran. Jiwa yang kosong adalah aku masa kanak-kanak, hingga menyenal islam lewat cara yang sederhana dari seorang tukang bubur kacang hijau. Di sana aku diajarkan huruf Qur'an, surat penangkal jin seperti Ayat Kursi, Al Ikhlas, Annas dan Al Falaq dengan tajwid dan arti yang benar. Hingga surat itu bukan sekedar kalimat mantra buta manusia yang mengharap dunia. Setelah belajar Iqro selama 1 tahun, kemahiran aku dan kakak dalam mengaji lebih baik, hingga datang Ustadz baru di masjid megah Al Munawar. Seorang pria muda S1 lulusan Universitas Madinah, bernama Ustadz Subakir. Tubuhnya kecil, berkulit putih bersih, dan terlihat lebih berilmu dibandingkan ami Saad dan Nurkaman, hal ini terlihat dari siraman rohani yang lebih khusus kepada beribadah yaitu cara berwudhu, sholat dan se...

Cinta Tak Bersyarat

Sadar bahwa agama adalah pondasi yang baik untuk akhlak seorang anak, bapak dan ibu mencarikan kami tempat mengaji. Kegiatan bermainku lebih berkurang, tapi karena iming-iming tambahan uang jajan, maka aku dan kakak semangat belajar mengaji iqro sekaligus siraman rohani di masjid yang jaraknya lebih jauh dari sekolah. Sebuah masjid yang bagus dan besar bernama Al Munawar . Di samping masjid ada ruangan untuk 2 orang takmir muda, yaitu guru mengaji kami. Saat pagi beliau berdua berdagang kacang hijau keliling dari pagi hingga dagangan habis. Sore harinya mereka mengajar anak-anak usia sekolah dasar mengaji Iqro, selesainya akan ada cerita islami mengenai akhlak yang baik. Ada sekitar 20 anak yang mengaji di sana dengan bayaran bulanan seharga 1 porsi bakso. Uang bayaran mengaji dari siswi seperti kami akan masuk ke kas masjid, bukan ke kantong mereka masing-masing. Namun ami-sebutan yang artinya paman-Saad dan Nurkaman selalu bersemangat mengajar kami semua. Saat bercerita Ami Saad ...

Cinta bukan Permainan Anak-anak

Fokus melupakan kemampuan meramal dan untuk tidak mencintai dan dicintai karena cinta bukan permainan untuk anak-anak , aku alihkan dengan banyak kegiatan. Berbekal keterampilan "bolang" saat di Jakarta, semua permainan anak aku kuasai. Bermain galaksin, di Bekasi disebut gobak sodor, adalah permainan lari cepat dan strategi agar kita sebagai pelaku menghindar dari gapaian teman yang berjaga berbaris, masing-masing dengan jarak 3 meter. Mungkin karena tubuhku kecil dan kurus, maka dengan mudah aku berlari cepat meliuk menghindari penjaga. Bermain karet , entah mengapa permainan ini juga ku kuasai dengan mudah. Badan ringanku sanggup melompat hingga jengkal tubuh teman yang lebih tinggi, congklak, bekel, kartu remi, semua permainan saat kanak-kanak membuat aku jadi primadona sekaligus teman bermain yang menakutkan bagi mereka, karena bila aku ambil bagian, maka aku tak akan pernah kalah, dan itu artinya mereka akan jaga atau memiliki kesempatan bermain yang lebih sedikit. Sia...